Senin, 22 November 2021

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL (PSE)

 

PENGERTIAN

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional

TUJUAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk:

Ø Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi

Ø Menetapkan dan mencapai tujuan positif

Ø Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain

Ø Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif

Ø Membuat keputusan yang bertanggungjawab

RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup: 

  1. Rutin:  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca  setelah jam makan siang
  2. Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi  kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.
  3. Protokol: menjadi budaya atau aturan  sekolah yang  sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau  sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menyelesaikan konflik  yang terjadi dengan membicarakannya tanpa kekerasan,  mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll.

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL BERBASIS KESADARAN PENUH (Mindfulness-Based Social Emotional Learning)

Mindfulness 

Kesadaran penuh (mindfulness) muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh. Misalnya, seorang anak yang terlihat asyik bermain peran dengan menggunakan boneka tanpa terganggu oleh suara sekitarnya.

Latihan berkesadaran penuh (mindfulness) sebenarnya sudah banyak diterapkan dalam pendidikan kita sejak lama. Misalnya, mengajak murid untuk hening dan berdoa sebelum memulai pelajaran, melakukan berbagai kegiatan literasi, mencintai alam, berolah-seni maupun berolahraga, dan lain sebagainya.

Well-being

Well-being (kesejahteraan hidup)  adalah sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

 

Social Emotional Learning (SEL)

 

Ada banyak yang mempengaruhi proses pembelajaran anak dan satu di antaranya adalah Social Emotional Learning (SEL).         
SEL inilah yang akan mempengaruhi bagaimana perilaku anak ke diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Sosial Emosional Learning atau SEL merupakan proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat.

 

PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL LEARNING (SEL)


terdapat 5 kunci pengembangan SEL pada anak;

            1. Kesadaran Diri (Self Awareness)

Self awareness berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali diri secara akurat mengenai emosi, pikiran dan nilai atau value diri.

2. Manajemen Diri (Self Management)

Kompetensi manajemen diri ini berkaitan mengenai kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, perilaku di berbagai situasi. Kemampuan ini juga berkaitan dengan penanganan stress, mengontrol hasrat, bertahan menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan.
3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)

Kesadaran sosial berkaitan dengan kemampuan untuk bisa berempati dengan orang lain dan mengambil perspektif dari berbagai sudut pandang. Singkatnya, kemampuan ini berkaitan erat dengan norma dan etika berperilaku terutama di kelompok misalnya di masyarakat.
4. Kemampuan Berelasi (Relationship Skill)

Kemampuan berelasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membangun dan memelihara suatu hubungan yang sehat antar individu dan kelompok.
5. Pembuatan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision Making)

Kemampuan ini berkaitan dengan pembuatan pilihan konstruktif yang benar dan cara bertindak sesuai etis, norma sosial dan keselamatan

MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 

A.   PENDAHULUAN

Setiap harinya, guru dihadapkan oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang tentu saja tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas mereka sukses dalam proses pembelajarannya

B.   PENGERTIAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan sejumlah cara yang berbeda untuk mengajar sesuai jumlah murid di dalam kelasnya. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.

C.   KEPUTUSAN-KEPUTUSAN YANG BERORIENTASI KEPADA MURID

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.

3. Penilaian berkelanjutan.

4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.

5. Manajemen kelas yang efektif.

D. MEMETAKAN KEBUTUHAN BELAJAR MURID

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

2. Minat murid

3. Profil belajar murid

D.   PENTINGNYA PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Berikut ini alasan mengapa Pembelajaran Berdiferensiasi dapat berhasil;

1. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah bersifat proaktif. Dalam kelas, guru akan berasumsi bahwa murid yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda dan secara proaktif merencanakan pembelajaran yang menyediakan berbagai cara untuk "mencapai" dan mengekspresikan pembelajaran.

2. Pembelajaran Berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Banyak guru secara salah berasumsi bahwa mendiferensiasi pembelajaran berarti memberi beberapa murid lebih banyak pekerjaan untuk dilakukan, dan yang lainnya lebih sedikit.

3. Pembelajaran Berdiferensiasi berakar pada penilaian. Guru yang memahami bahwa pendekatan belajar mengajar harus sesuai dengan kebutuhan murid, akan mencari setiap kesempatan untuk mengenal murid mereka dengan lebih baik. Mereka melihat percakapan individu, diskusi kelas, pekerjaan murid, observasi, dan penilaian formal sebagai cara untuk terus mendapatkan wawasan tentang apa yang paling berhasil untuk setiap muridnya..

4. Pembelajaran Berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan produk.

5. Pembelajaran berdiferensiasi berpusat pada murid. Pembelajaran berdiferensiasi beroperasi pada premis bahwa pengalaman belajar paling efektif adalah ketika pembelajaran tersebut berhasil mengundang murid untuk terlibat, relevan, dan menarik bagi murid.

6. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompok dan individual.

7. Pembelajaran berdiferensiasi bersifat "organik" dan dinamis. Di ruang kelas yang berbeda, mengajar adalah sebuah evolusi. murid dan guru sama-sama pembelajar. Guru mungkin tahu lebih banyak tentang materi pelajaran, namun mereka juga terus belajar tentang bagaimana murid mereka belajar.

DISIPLIN POSITIF SEBAGAI LANDASAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

 

A.   PENGERTIAN DISIPLIN POSITIF

Disiplin positif merupakan sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orang tua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya.

B.   TUJUAN DISIPLIN POSITIF

Disiplin positif bertujuan untuk membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik. Untuk dapat mencapai hal tersebut, kita perlu memberikan murid panduan yang jelas. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan partisipasi anak dan penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.

C.   KRITERIA UTAMA DISIPLIN POSITIF

1.    Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan ( menunjukkan sikap hormat dan memberi semangat)

2.    Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.

3.    Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka Panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil. Dengan begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.

4.    Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab, kontribusi, dan kerja sama.

5.    Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.

D.   PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DI SEKOLAH

Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. Sekolah perlu bekerja sama dengan orang tua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktikkan disiplin positif di rumah.

E.    PERAN DAN TANGGUNG JAWAB STAKEHOLDER SEKOLAH

1.    GURU

·         Memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik.

·         Melibatkan dan bekerja sama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif.

2.    KEPALA SEKOLAH

·         Memastikan peran guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah

·         Mendukung dan mengawasi keterlibatan orang tua dalam menerapkan disiplin positif

3.    ORANG TUA

·         Menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten.

·         Berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif.

 

 

VISI GURU PENGGERAK ( KEBUTUHAN PERUBAHAN DI SEKOLAH )

 

A.   PENDAHULUAN

Sekolah adalah tempat atau taman yang nyaman bagi siswa dan dapat dijadikan rumah kedua karena di sinilah siswa dapat belajar, berkreasi sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Sekolah memiliki peran penting bagi siswa untuk dapat berkembang ke depan yang lebih baik. Hal ini dapat terjadi dengan adanya kerja sama yang baik antara pemangku kepentingan yang ada di sekolah. Relasi yang baik antara kepala sekolah, guru, siswa, orang tua dan komite akan mewujudkan budaya positif dalam lingkungan sekolah, dan akan tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa.

B.   PARADIGMA INKUIRI APRESIATIF

1.    Inkuiri Apresiatif ( IA ) merupakan sebuah pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Sebagai salah satu model manajemen perubahan dan mencoba menerapkannya melalui tahapan Inkuiri Apresiatif dengan akronim BAGJA ( Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi ).

2.    Kekuatan dan hal positif Inkuiri Apresiatif sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pendekatan Inkuiri Apresiatif menggali potensi yang ada pada anak yang dibawa sejak lahir

C.   LANGKAH KONKRET DALAM MENERAPKAN INKUIRI APRESIATIF MODEL BAGJA

1.    Memahami kekuatan positif sekolah yang sudah ada.

2.    Menghadapi kendala yang muncul dan mencari solusi bersama dengan mengadakan rapat bersama.

3.    Bekerja sama dengan pemangku kepentingan dan melakukan perubahan bersama di lingkungan sekolah

D.   KODRAT ALAM DAN KODRAT ZAMAN

1.    Kodrat alam adalah lingkungan alam tempat peserta didik berada baik dari sisi budaya maupun kondisi alam geografis. Karakter siswa dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dimana siswa berada di lingkungan yang baik maka siswa pun karakternya akan menjadi lebih baik pula, sedangkan jika siswa berada di lingkungan kurang baik maka peran guru harus menuntun siswa ke arah (jalan) yang benar agar siswa menjadi lebih baik..

2.    Kodrat zaman adalah perubahan dari waktu ke waktu sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan Abad 21, dan perkembangan tersebut harus tetap kita saring sesuai nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal budaya Indonesia.

E.    PEMANFAATAN INKUIRI APRESIATIF UNTUK MEWUJUDKAN KODRAT ALAM DAN KODRAT ZAMAN

Paradigma Inkuiri Apresiatif dan pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat erat kaitannya dimana keduanya sangat berpengaruh bagi siswa, guru, dan pemangku kepentingan untuk dapat berkolaborasi menumbuhkan nilai-nilai dan budaya positif di sekolah. Stakeholder sekolah yang menciptakan iklim belajar yang harmonis akan mengarahkan siswa menuju potensinya sesuai dengan kodrat yang dimilikinya dan mengikuti kodrat zaman yang semakin hari semakin pesat sehingga siswa dapat menggunakannya dan dapat berkembang dengan baik, dan menghasilkan output yang berkompeten.

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

 

A.   PENDAHULUAN

Dunia kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak. Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi dan tanpa filter.

Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain yang lebih agresif melakukan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita dipaksa untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan pendidikan kita.

B.   NILAI GURU PENGGERAK

Kekuatan saya sebagai calon guru penggerak yang saya ketahui dan saya miliki setelah mempelajari modul ini insya Allah saya akan selalu berkomitmen yang tinggi dalam mewujudkan pembelajaran dengan menjalankan nilai-nilai, di antaranya :

1.    Mandiri : dimana seorang guru harus mampu berdiri sendiri dalam melakukan berbagai kegiatan. Dengan mandiri maka seorang guru akan mampu bertanggungjawab terhadap hal-hal atau keputusan yang telah diambil

2.    Reflektif : Seorang guru akan terbuka dengan segala bentuk perubahan, dimana dia harus mampu menerima hal-hal yang baru. Melalui reflektif ini juga seorang guru akan mampu mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada di sekitar

3.    Kolaboratif : dimana seorang guru akan mampu bekerja sama dengan teman-teman sejawatnya guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Dengan berkolaboratif ini juga seorang guru akan mampu mengetahui apa kekurangan dan kelebihan dalam proses belajar mengajar

4.    Inovatif : Sebuah cara untuk mendapatkan solusi-solusi atau hal-hal baru dan ide-ide kreatif dalam rangka menyelesaikan tugas pembelajarannya

5.    Pembelajaran yang terpusat pada murid. Dalam hal ini seorang guru akan memberikan kesempatan kepada siswa dengan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreatifitasnya

C.   PERAN GURU PENGGERAK

Dampak positif bagi murid jika peran sebagai guru penggerak dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu :

1.    Murid mendapat pengalaman belajar bermakna yang berpusat pada murid

2.    Murid mengalami merdeka belajar

3.    Murid dapat belajar dengan bahagia dalam lingkungan yang nyaman dan mendukung

4.    Murid dapat mengembangkan bakat dan minatnya

5.    Terbentuk profil pelajar Pancasila pada murid ( beriman, berahlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis dan mandiri )

REFLEKSI FILOSOFI PENDIDIKAN INDONESIA KI HADJAR DEWANTARA

 

PENDAHULUAN

Sahabat blogger, setelah penulis mengupas kemasan program Pendidikan Guru Penggerak mulai dari; Selayang Pandang Program Pendidikan Guru Penggerak, Gerbang Menuju Pendidikan Guru Penggerak, dan Kegiatan Pendidikan Guru Penggerak, maka pada artikel keempat ini penulis akan mengupas isi atau materi Pendidikan Guru Penggerak mulai dari Modul 1.

 

A.   Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran merupakan bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “ pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”

B.   Dasar-Dasar Pendidikan

1.    Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik itu hanya menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki laku-nya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuh-nya kekuatan kodrat anak”.

2.    Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh petani atau tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan petani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ petani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

3.    Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar

C.   Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

Ki Hadjar Dewantara (KHD) menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa Pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, Pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya.

KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi, sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.