Senin, 22 November 2021

MUTIARA YANG TERSIMPAN DI DALAM PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

 

PENDAHULUAN

sahabat blogger pada artikel kali ini penulis akan memaparkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Calon Guru Penggerak ( CGP ) dalam mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ( PGP ) selama 9 bulan tersebut, dan sekaligus merupakan jawaban dari pertanyaan yang sering disampaikan oleh guru-guru tentang apa saja dan bagaimana Pendidikan Guru Penggerak tersebut.

 

KEGIATAN PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

Setelah peserta dinyatakan lulus dalam rangkaian tahapan seleksi, maka peserta diwajibkan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak selama 9 bulan.

Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan.

Adapun materi yang disajikan sebanyak 3 paket yang memuat 3 atau 4 modul, setiap 1 paket dapat ditempuh kurang lebih selama 2 bulan

 

ALUR KEGIATAN PEMBELAJARAN

1.    Mulai dari Diri

Kegiatan ini berupa pertanyaan-pertanyaan reflektif-kritis untuk mengetahui pemahaman diri tentang sebuah konsep/materi. Calon Guru Penggerak pun menuliskan harapan bagi diri sendiri dan murid-murid setelah setelah mempelajari materi, dan ekspektasi mengenai materi dan kegiatan yang akan ditemui dalam modul.

2.    Eksplorasi Konsep

Kegiatan ini berupa pemaparan materi dari instruktur tentang sebuah konsep, dan calon guru penggerak diharapkan mampu mendiskusikan dan mempresentasikannya.

3.    Ruang Kolaborasi

Kegiatan ini sebagai forum diskusi Calon Guru Penggerak dengan fasilitator tentang sebuah analisis kasus serta pemberian solusinya yang berhubungan dengan konsep / materi

4.    Refleksi Terbimbing

Kegiatan ini Calon Guru Penggerak merefleksikan pengetahuan dan pengalaman setelah mempelajari materi / konsep

5.    Demonstrasi Kontekstual

Kegiatan ini Calon Guru Penggerak membuat karya ( video pendek, komik, lagu,puisi,dll ) tentang materi / konsep

6.    Elaborasi Pemahaman

Kegiatan ini berupa diskusi langsung dalam bentuk konferensi untuk memperdalam dan mempertajam sebuah materi / konsep yang disampaikan oleh instruktur atau tokoh Pendidikan yang sudah menerapkan materi / konsep tersebut.

7.    Koneksi Antar Materi

Dalam kegiatan ini Calon Guru Penggerak melihat lagi seluruh materi yang sudah dipelajari, kemudian membuat hubungan antara materi-materi tersebut dan juga keterkaitannya dengan praktik yang konkret bersama dengan murid dan rekan guru di sekolah asal.

8.    Aksi Nyata

Dalam Kegiatan ini Calon Guru Penggerak membuat portofolio dari perubahan konkret di sekolah yang terdiri dari dokumentasi foto / video dan tulisan refleksi

GERBANG MENUJU PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

 A.   MUQODDIMAH

Pendidikan Guru Penggerak merupakan program Pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran.

Mengingat banyaknya yang berminat untuk mengikuti Pendidikan guru penggerak maka kemendikbud menyelenggarakan seleksi untuk menuju gerbang Pendidikan guru penggerak tersebut. Hal ini terbukti dengan terjaringnya 19.218 pendaftar, dan yang berhasil diseleksi sebanyak 2.800 calon guru penggerak Angkatan pertama.

 

B.   TAHAP SELEKSI

Untuk mendaftar atau registrasi dalam Pendidikan guru penggerak, terlebih dahulu pendaftar harus memiliki akses pada SIM PKB ( Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Kepropesian dan Berkelanjutan.

Adapun tahapan seleksinya adalah sebagai berikut :

 

1.    Pengisian Curiculum Vitae

Langkah pengisian curiculum vitae dimulai dari pengisian kelengkapan data informasi umum, pengalaman mengikuti pelatihan, organisasi, sukarelawan serta mengembangkan orang lain.

2.    Proses Pengisian Essai & Input Survai

Dalam pengerjaan Essai ini peserta hanya mempunyai durasi waktu selama 2 jam 30 menit. Setelah pendaftar melakukan input semua tugas essai yang ada, maka proses selanjutnya yaitu mengisi survai. Survai ini berisi tentang Persepsi Sosial Guru. Survai ini wajib dikerjakan.

3.    Proses Tes Bakat Skolastik ( TBS )

Setelah menyelesaikan tahap pengisian Essai, maka proses selanjutnya yaitu tahap ketiga proses Tes Bakat Skolastik ( TBS ) waktu pengerjaan 85 menit.

4.    Simulasi Mengajar dan Wawancara

Simulasi mengajar dan wawancara merupakan seleksi tahap 2 dalam program Pendidikan Guru penggerak jika dinyatakan lolos seleksi tahap satu. Simulasi mengajar dilaksanakan dalam durasi waktu selama 8 menit, dilanjutkan dengan wawancara.

 

C.   KEGIATAN PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

Setelah peserta dinyatakan lulus dalam rangkaian tahapan seleksi, maka peserta diwajibkan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak selama 9 bulan.

Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan.

Selanjutnya penulis akan memaparkan bentuk-bentuk kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ( PGP ) pada artikel berikutnya

SELAYANG PANDANG TENTANG PROGRAM GURU PENGGERAK

 

MUQODDIMAH

Sahabat blogger khususnya para guru dan masyarakat mungkin di tengah-tengah kita masih ada yang belum mengenal bahkan mencari informasi tentang apa itu guru penggerak, peranannya seperti apa, tujuannya apa serta sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan program guru penggerak.

Oleh karena itu penulis sekaligus salah seorang peserta Calon Guru Penggerak Angkatan ke-1 kabupaten Garut, akan memaparkan tentang program guru penggerak tersebut sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan yang berkembang di internal guru dan masyarakat tentang program guru penggerak tersebut berdasarkan referensi dari kemendikbud baik berupa media cetak, media elektronik serta jejaring sosial.

Adapun pertanyaan yang sering muncul kepada kami tentang program guru penggerak itu, antara lain ;

 

1.    Apa itu Guru Penggerak ?

Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

 

2.    Apa peran Guru Penggerak ?

Guru penggerak akan berperan dalam  menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah., mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, dan Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah

3.    Mengapa guru harus menjadi Guru Penggerak?

Guru penggerak diharapkan menjadi pemimpin- pemimpin pendidikan di masa depan yang mewujudkan generasi unggul Indonesia

 

4.    Apa saja hal yang didapat Ketika mengikuti program guru penggerak ?

Untuk menjadi Guru Penggerak, guru harus mengikuti pendidikan guru penggerak selama 9 bulan. Selama mengikuti proses pendidikan, peserta yang lolos seleksi Program Guru Penggerak akan mendapatkan;

a.    Pendidikan Guru Penggerak selama 9 bulan dan pengembangan kompetensi dalam Lokakarya Bersama

  1. Peningkatkan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid
  2. Pengalaman belajar mandiri dan kelompok terbimbing, terstuktur, dan menyenangkan
  3. Pengalaman belajar bersama dengan rekan guru lain yang sama-sama lolos seleksi program guru penggerak
  4. Pengalaman mendapatkan bimbingan/ mentoring dari pengajar praktik ( pendamping ) Pendidikan guru penggerak
  5. Mendapatkan komunitas belajar baru
  6. Mendapatkan sertifikat pendidikan 306 JP dan Piagam Guru Penggerak

Selama pelaksanaan Kemdikbud akan memberikan dukungan berupa:

Ø  Selama pendidikan dan pendampingan mendapatkan bantuan paket data untuk pelatihan daring (online)

Ø  Biaya transportasi, konsumsi, dan akomodasi jika diperlukan utk pelaksanaan Lokakarya (sesuai kebutuhan).*

Senin, 15 November 2021

HIKMAH PENGIMBASAN

            Hikmah pengimbasan yang saya rasakan saya menjadi lebih mengerti dan paham akan pentingnya pembiasaan membaca yang berkaitan dengan literasi dan numerasi, karena literasi dan numerasi erat kaitannya dengan kehidupan dan perkembangan siswa.

            Untuk lebih memahami materi kita harus memperagakan dan menuangkan secara langsung dan nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama penerapan pembiasaan membaca kepada siswa

            Materi yang ingin lebih didalami adalah tentang penerapan pembiasaan literasi dan numerasi kepada siswa, agar siswa dapat memiliki kesadaran sendiri akan pentingnya literasi dan numerasi


Jumat, 09 April 2021

 

BLOG RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI 3.1. a. 8.1

PGP-1-Garut-Dadan Hamdani-Blog Rangkuman Koneksi Antar Materi

 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berperan dalam memajukan sumber daya manusia yang di dalamnya terdapat kegiatan proses belajar mengajar yang teratur dan terencana. Agar proses belajar mengajar dapat terwujud secara efektif dan efesien maka harus ada sosok pemimpin yang mengatur dan mengelola proses tersebut.

Guru sebagai pemimpin (manajer) adalah motor penggerak bagi muridnya. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu melaksanakan langkah-langkah pengambilan keputusan dalam mengelaborasi metode pembelajaran yang berpihak pada murid. Keputusan yang diambil guru akan menentukan arah dan tujuan pembelajarannya. Kegiatan pembelajaran akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Hal itu yang disebut dengan “ well being ekosistem “ Pendidikan

Lalu bagaimana caranya guru dapat menerapkan sistem among dalam pembelajaran? Sistem among merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan karena merupakan metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh (care and dedication based on love ). Sistem among itu sendiri bersendikan pada dua hal yaitu kodrat alam dan kemerdekaan anak

Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara pada sistem Among yaitu “

1.      Ing ngarso sungtulodo : Seorang pemimpin atau guru haruslah memberikan tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Ibarat magnet pemimpin harus mampu menarik partikel-partikel di sekitarnya untuk bisa diajak bersinergi untuk mencapai sebuah visi sekolah.

2.      Ing madya mangun karsa : seorang pemimpin atau guru harus bisa bekerja sama dengan orang yang dididiknya atau muridnya. Guru mempererat hubungan antara guru dengan murid itu sendiri, namun tidak melanggar etika jalur pendidikan.

3.      Tut Wuri Handayani : Seorang pemimpin atau guru berlaku sebagai motivator untuk mendorong murid mengembangkan setiap potensi yang dimiliki murid

Seorang guru sekaligus pemimpin pembelajaran terkadang sering juga mengalami dilema dalam pengambilan keputusan, baik itu dilema etika atau bujukan moral. Apa bedanya Dilema Etika dan Bujukan Moral tersebut ?

1.      Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan tersebut secara moral benar tetapi bertentangan.

2.      Bujukan Moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah

Dari dua hal di atas, maka di sinilah diperlukan nilai Guru Penggerak. Nilai tersebut akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Kemauan diri untuk terus belajar secara mandiri berkolaborasi bersama rekan-rekan yang sehati dan selalu mencoba berinovasi untuk menantang kekuatan diri, merenung dan merefleksi tiap langkah yang telah dilewati akan menjadi bekal diri untuk mencapai keberpihakan kepada murid.

Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan yang yang positif, kondusif, aman dan nyaman mencapai arah dan tujuan pembelajaran.

Di bawah ini merupakan 9 langkah pengambilan keputusan :

1.      Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut

3.      Mengumpulkan fakta

4.      Pengujian benar atau salah

5.      Pengujian paradigma

6.      Prinsip resolusi

7.      Investigasi opsi trilemma

8.      Membuat keputusan

9.      Meninjau dan merefleksi keputusan

Efektif atau tidaknya pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan Tehnik COACHING. Tehnik Coaching akan menjawab pertanyaan dalam diri untuk memunculkan potensi diri dalam menyelesaikan situasi yang menimbulkan dilema bagi guru sebagai pemimpin pembelajaran. Kesulitan yang sering terjadi adalah ketika menghadapi situasi dilema etika dan nilai-nilai kebaikan yang mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggungjawab, dan penghargaan akan hidup.

Paradigma pada situasi dilema etika yang dapat terjadi dalam pengambilan keputusan yaitu :

1.      Individu lawan masyarakat

2.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan

3.      Kebenaran lawan kesetiaan

4.      Jangka pendek lawan jangka Panjang

Untuk menyelesaikannya prinsip pengambilan keputusan yang dapat dipakai guru sebagai acuan dalam mengambil keputusan adalah :

1.      Berpikir berbasis hasil akhir; dimana segala keputusan ditentukan dengan konsekuensi atau hasil dari situasi tindakan

2.      Berpikir berbasis peraturan

3.      Berpikir berbasis kepedulian

Dengan berpikir berbasis rasa peduli itulah guru mencoba memberikan kesempatan kepada anak untuk merdeka belajar. Belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermakna di dalam kelas maupun di luar kelas. Membuat setiap momen belajar menjadi sebuah permainan yang penuh tantangan. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya, mencoba, menghasilkan sebuah karya yang berguna untuk kita semua. Meyakinkan mereka untuk ikut berlomba dan menginspirasi dunia. Dengan begitu niscaya bahagialah mereka karena ingin di saat pendidik itu hadir dan mereka punya banyak cerita, punya banyak laksana, dan punya sejuta karya.

MENGAJARKAN ANAK MENGHITUNG ITU BAIK, NAMUN MENGAJARKAN MEREKA APA YANG BERHARGA / UTAMA ADALAH YANG TERBAIK.

Minggu, 07 Februari 2021

Refleksi pemahaman dan Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

 

A.   jawaban 3 pertanyaan ( Refleksi Pemahaman pembelajaran berdiferensiasi )

1.    Saya dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi secara efektif dengan cara  Memetakan Kebutuhan Belajar murid berdasarkan ; Kesiapan belajar murid, Minat murid dan Profil belajar murid. Serta dengan menggunakan Strategi berupa konten, proses dan produk

2.    Dalam pembelajaran berdiferensiasi pendekatan yang digunakan adalah saintific aproach yang dapat mengakomodir semua kebutuhan siswa secara holistik

3.    Dengan melalui pemahaman pembelajaran berdiferensiasi, serta diskusi rekan sejawat, dukungan kepala sekolah dan komite, maka saya insya Allah akan bersikap positif bahwa pembelajaran berdiferensiasi akan berhasil saya terapkan di kelas.

B.   Jawaban 4 pertanyaan  ( Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi )

1.    Bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan berbagai cara sesuai jumlah murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak

2.    Bagi saya merasa kesulitan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi jika dalam kelas tersebut ada  salah seorang atau lebih Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ). Misalkan keterbatasan dalam pendengaran. Guru bukanlah seorang malaikat yang harus kesana kemari menyentuh, membuat teks tulisan, memajangkan gambar materi.

3.    Saya pernah mencoba menerapkannya dengan pelayanan khusus memprivat ke rumahnya, berkonsultasi dengan orang tuanya, dan menghimbau kepada pihak orang tua, kepala sekolah, dan komite untuk dibelikan alat bantu pendengaran

4.    Saya akan coba lakukan jika kebutuhan anak melalui pembelajaran berdiferensiasi tidak terakomodir, maka saya akan mencoba menerapkan pembelajaran sesuai bakat dan potensi yang dimiliki anak, mislakan melakukan pengayaan bagi anak yang berkompetensi di atas rata-rata, dan remedial bagi anak yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata dengan cara belajar di rumah guru atau guru yang datang ke rumah murid.

Sabtu, 21 November 2020

 

Pemetaan Pemangku Kepentingan Pendidikan

Menurut saya pemangku kepentingan di sekolah yang terdiri dari pemerintah dan dinas Pendidikan sebagai pembuat kebijakan > pengawas sekolah sebagai monitoring> Kepala sekolah sebagai manajerial sekolah > guru sebagai pelaksana kebijakan > siswa sebagai objek . di bantu dengan Komite sekolah sebagai penyampai aspirasi dan dunia usaha untuk melancarkan program serta orang tua sebagai pendukung.

Mengetahui pemetaan pemangku kepentingan sangat penting sekali karena dalam menggapai visi sekolah yang telah ditetapkan tidak mungkin tercapai tanpa adanya kolaborasi dengan pihak lain.

Pentingnya mengetahui pemetaan pemangku kepentingan untuk memetakan peran dan fungsi masing-masing. Juga sebagai evaluasi atas target yang sudah dan belum tercapai serta penanggung jawabnya.

Melalui peta pemangku kepentingan dapat mewujudkan visi dan misi sekolah, saling berkolaborasi dalam mewujudkan visi misi sekolah, menopang kelemahan menjadi kekuatan jika dilaksanakan secara bekerja sama. Jika semua pemangku kepentingan pendidikan ingin melakukan perubahan dengan menggunakaN pendekatan Inkuiri Apresiatif ( IA ) yang berbasis KEKUATAN, maka gunakanlah strategi BAGJA  :

1.      Buat pertanyaan untuk menentukan kemana arah penelususuran;

2.      Ambil pelajaran untuk menuntun bagaimana kita akan mengambil pengalaman;

3.      Gali mimpi untuk menyusun narasi keadaan yang ideal di sekolah;

4.      Jabarkan rencana untuk mengidentifikasi tidakan apa saja yang diperlukan untuk mengambil keputusan-keputusan;

5.   Atur eksekusi untuk membantu mentransformasikan semua rencana yang sudah di susun agar bisa menjadi nyata di sekolah.